Skrining Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jambu-Books Pdf

SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU
21 Jun 2020 | 12 views | 0 downloads | 18 Pages | 882.30 KB

Share Pdf : Skrining Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jambu

Download and Preview : Skrining Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jambu


Report CopyRight/DMCA Form For : Skrining Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jambu



Transcription

HALAMAN PERSETUJUAN, SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN. JAMBU BIJI DAUN MINT DAUN SERAI PELEPAH PISANG AMBON DAN. RIMPANG JAHE TERHADAP Salmonella paratyphi A, PUBLIKASI ILMIAH. NISA FAUZIAH, K 100 130 202, Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh. Dosen Pembimbing, Ratna Yuliani M Biotech St, HALAMAN PENGESAHAN. SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN. JAMBU BIJI DAUN MINT DAUN SERAI PELEPAH PISANG AMBON DAN. RIMPANG JAHE TERHADAP Salmonella paratyphi A, NISA FAUZIAH.
K 100 130 202, Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji. Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada hari 2017, dan dinyatakan telah memenuhi syarat. Dewan Penguji, 1 Maryati Ph D Apt, Ketua Dewan Penguji. 2 Agus Purnomohadi M Biotech, Anggota I Dewan Penguji.
3 Ratna Yuliani M Biotech St, Anggota II Dewan Penguji. Azis Saifudin Ph D Apt, PERNYATAAN, Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam naskah publikasi ini tidak terdapat karya yang. pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang. pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang. lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas maka akan saya. pertanggungjawabkan sepenuhnya, Surakarta 29 November 2017. NISA FAUZIAH, K 100 130 202, SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI DAUN. MINT DAUN SERAI PELEPAH PISANG AMBON DAN RIMPANG JAHE TERHADAP. Salmonella paratyphi A, Salmonella parathypi A adalah bakteri penyebab demam paratifoid Penyakit ini merupakan.
salah satu masalah utama kesehatan bagi masyarakat negara berkembang seperti Indonesia Beberapa. antibiotik digunakan untuk menyembuhkan demam paratifoid misalnya amoksisilin kloramfenikol. seftriakson dan siprofloksasin Penggunaaan antibiotik yang tidak rasional menimbulkan. peningkatkan faktor resistensi bakteri terhadap beberapa obat Oleh karena itu perlu ada. pengembangan dan penelitian bahan alam yang mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Salmonella. parathypi A Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun. jambu biji daun mint daun serai pelepah pisang ambon dan rimpang jahe serta mengetahui. golongan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi terhadap S paratyphi A. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode difusi disk Identifikasi golongan. senyawa dalam ekstrak paling aktif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis KLT Uji bioautografi. digunakan untuk mendeteksi golongan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun jambu biji daun serai pelepah pisang ambon dan. rimpang jahe memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella paratyphi A sedangkan ekstrak. daun mint tidak memiliki aktivitas antibakteri Rimpang jahe memiliki aktivitas antibakteri paling. tinggi dengan diameter zona hambat sebesar 10 83 1 04 mm Golongan senyawa yang terkandung. dalam ekstrak rimpang jahe adalah alkaloid polifenol flavonoid tanin saponin dan terpenoid. Golongan senyawa yang diduga memiliki aktivitas antibakteri terhadap S paratyphi A adalah tanin. dan polifenol, Kata kunci antibakteri Salmonella paratyphi A ekstrak KLT bioautografi. Salmonella parathypi A is a bacteria that causes paratyphoid fever It becomes one of the. major public health problems for developing countries such as Indonesia Many antibiotics are used. to cure it such as amoxicillin chloramphenicol ceftriaxone and ciprofloxacin The use of antibiotics. irrationally leads to increased bacterial resistance against some drugs Therefore it is necessary to. develop and study antibacterial compounds against S parathypi A The purposes of this study were. to find antibacterial agents from medicinal plants such as guava mint leaves lemongrass leaves. Ambon banana stems and ginger rhizome and identify the class of compounds that have the highest. antibacterial activity against S paratyphi A, The disc diffusion method was used to determine the antibacterial activity of ethanol extract. of guava leaves mint leaves lemongrass leaves ambon banana stems and ginger rhizome against S. parathypi A Identification of compounds were done using Thin Layer Chromatography TLC. Bioautography was used to detect classes of compounds that have antibacterial activity. The results showed that guava leaves lemongrass leaves ambon banana bark and ginger. rhizome have antibacterial activity against S paratyphi A except mint leaf extract Ginger rhizome. has the highest antibacterial activity with diameter of inhibition zone of 10 83 1 04 mm. Compounds identified in ginger rhizome extract were alkaloids polyphenols flavonoids tannins. saponins and terpenoids Groups of compounds suspected of having antibacterial activity against S. paratyphi A were tannins and polyphenols, Keywords antibacterial Salmonella paratyphi A extract TLC bioautography. 1 PENDAHULUAN, Demam paratifoid adalah penyakit enterik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella. paratyphi Bakteri S paratyphi ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar infeksi. ditandai dengan demam berkelanjutan sakit kepala nyeri perut denyut jantung lambat dan. hepatosplenomegali perbesaran hati atau limpa Gerard 1992 Berdasarkan profil kesehatan. Indonesia tahun 2009 jumlah kejadian demam tifoid dan paratifoid di rumah sakit adalah 80 850. kasus pada penderita rawat inap dan 1 013 diantaranya meninggal dunia Pada tahun 2010 penderita. demam tifoid dan paratifoid sejumlah 41 081 kasus pada penderita rawat inap dan jumlah pasien. yang meninggal dunia sebanyak 276 jiwa Depkes RI 2010 Demam paratifoid terjadi sekitar 6 juta. kasus setiap tahunnya CDC 2015, Beberapa antibiotik yang poten dan dapat menghambat S parathypi A diantaranya.
siprofloksasin sefotaksim ampisilin gentamisin trimetoprim sulfametoksazol dan kloramfenikol. Yenny dan Herwana 2007 Obat tersebut dapat menekan invasi disentri yang akut dan. memperpendek jangka waktu gejala Jawetz et al 2005 Siproflokasasin obat golongan. fluorokuinolon dengan mekanisme kerja siprofloksasin mengubah struktur DNA bakteri dengan. menghambat aktivitas DNA girase pada bakteri sehingga tidak terbentuk DNA superkoil dan DNA. tidak berhasil direplikasi Rintiswati dan Praseno 1998 Hasil penelitian Yanti 2007 menunjukan. bahwa dari 317 sampel penelitian sudah tampak adanya sampel resisten Maka perlu diperhatikan. penggunaan antibiotik pada demam tipoid dan demam paratipoid secara benar dan rasional. Penggunaan obat yang tidak rasional dapat meningkatkan resistensi obat Oleh karena itu perlu. dilakukan penelitian dan pengembangan senyawa antibakteri yang poten terhadap S parathypi A. Alternatif yang dapat digunakan adalah pemanfaatan tanaman obat seperti jambu biji daun. mint daun serai pelepah pisang ambon dan rimpang jahe Tanaman tersebut memiliki aktivitas. antibakteri dengan nilai Kadar Hambat Minimum KHM yang berbeda Daun jambu biji memiliki. nilai KHM terhadap bakteri Staphylococcus aureussebagai bakteri Gram positif dan bakteri. Escherichia coli Pseudomonas aeruginosa sebagai bakteri Gram negatif sebesar 100 g mL. Fernandes et al 2014 Daun mint memiliki nilai KHM terhadap bakteri S aureussebesar 2 20. mg mL Rimpang jahe memiliki nilai KHM terhadap bakteri S aureus sebesar 3 56 mg mL Betoni et. al 2006 Pelepah pisang ambon pada konsentrasi 80 memiliki zona hambat terhadap S aureus. sebesar 13 mm Alafiah 2015 dan memiliki diameter zona hambat terhadap E coli sebesar 18 962. mm Ningsih 2013 Daun serai memiliki nilai KHM terhadap E coli sebesar 14 g mL Ewansiha. et al 2012 Kelima tanaman tersebut memiliki potensi sebagai antibakteri terhadap masing masing. bakteri maka besar kemungkinan kelima tanaman tersebut memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. paratyphi A, Penelitian ini termasuk dalam kategori eksperimental. Alat penelitian yang digunakan adalahtimbangan digital Ohaus blender seperangkat alat. gelas Pyrex Labu Erlenmeyer rak tabung reaksi cawan Petri pinset ose bulat dan jarum. mikropipet Socorex mikroskop CX21FS1 bunsen vorteks Thermolyne Corporation oven. kaca objek laminar air flow CV Srikandi Laboratory batang pengaduk neraca analitik Precisa. XT 120A kamera inkubator Memmert autoklaf Hirayama HVE 50 lampu UV 254 UV 366. dan evaporator HEIDOLPH Laborato 4000 Efficien WB eco. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah daun jambu biji daun mint daun serai. pelepah pisang ambon rimpang jahe diambil dari daerah Sukoharjo etanol 96 etanol 70. akuades kristal gentian violet Gram A iodium Gram B alkohol 95 Gram C larutan safranin. Gram D minyak imersi kertas saring disk antibiotik siprofloksasin media Mueller Hinton MH. media SIM media KIA media Brain Heart Infusion BHI hidrogen peroksida lempeng silika gel. GF 254 blue tip yellow tip disk kosong alumunium foil spirtus reagen sitroborat Dragendorff. vanillin H2SO4 dan FeCl3, 2 3 1 Penyiapan simplisia. Daun jambu biji daun mint daun serai pelepah pisang ambon dan rimpang jahe. dibersihkan dan dikeringkan dengan cara diangin anginkan dalam kondisi yang terlindung dari. cahaya matahari Simplisia yang telah dikeringkan kemudian dihaluskan menggunakan blender. 2 3 2 Sterilisasi alat, Alat alat yang digunakan dalam penelitian uji aktivitas antibakteri dicuci dan disterilkan. terlebih dahulu sebelum digunakan Alat alat gelas disterilkan di dalam oven pada suhu 170 C. selama 2 jam Media disterilkan diautoklaf pada suhu 121 C selama 20 menit Ose dan spreader. glass disterilkan dengan lampu spiritus, 2 3 3 Ekstraksi. Ekstraksi menggunakan metode maserasi Serbuk kering simplisia ditimbang sebanyak 100. gram kemudian dimaserasi dengan 1500 ml etanol 96 Proses maserasi dilakukan selama 3 hari. Proses tersebut berada pada suhu ruang dan tidak terkena sinar matahari Setelah dimaserasi. simplisia disaring dengan kertas saring sehingga diperoleh maserat diperas dengan corong Buchner. dan ditampung dalam wadah yang tertutup Filtrat dipekatkan menggunakan vacum rotary. evaporator pada suhu 45 C hingga diperoleh ekstrak kental etanol 96 Noorhamdani 2012 Filtrat. diuapkan dengan waterbath hingga diperoleh ekstrak kental. 2 3 4 Pembuatan larutan ekstrak, Setiap Ekstrak tanaman diperlakukan sama yaitu dibuat konsentrasi 80 b v Ekstrak kental.
setiap ekstrak tanaman ditimbang 1 2 mg dan dilarutkan dalam 1 5 ml etanol 96 di masukan dalam. eppendorf lalu divorteks hingga larut, 2 3 5 Pembuatan Media Bakteri. Media MH dibuat dengan cara melarutkan 38 gram media dengan 100 ml akuades dan. dididihkan Media disterilkan dengan autoklaf dengan suhu 121 C selama 20 menit Media tersebut. dituang dalam cawan petri dan disimpan pada suhu 2 8 C. Media BHI dibuat dengan cara melarutkan 37 gram media disuspensikan ke dalam 1 liter. akuades dan dididihkan Media dituang dalam tabung untuk disterilisasi dalam autoklaf 121 C. selama 20 menit, 2 3 6 Uji Kromatografi Lapis Tipis. Ekstrak etanol rimpang jahe dilarutkan dengan pelarut etanol 96 Larutan ditotolkan pada. fase diam yaitu silika gel GF254 ditunggu sampai kering kemudian dielusi dengan fase gerak n. heksan aseton 6 4 Bercak pada plat KLT ditunggu sampai kering kemudian diamati di bawah. sinar tampak sinar UV 254 nm dan 366 nm Plat KLT disemprot reagen sitroborat Dragendorff. vanillin H2SO4 dan FeCl3, 2 3 7 Uji Bioautografi, Uji bioautografi dilakukan untuk mendeteksi senyawa aktif yang memiliki aktivitas. antibakteri Plat KLT yang telah dielusi ditempelkan pada media MH yang telah diinokulasi dengan. 200 l suspense bakteri Media didiamkan selama 20 menit kemudian lempeng diambil dan media. diinkubasi pada suhu 370 C selama 24 jam Media diamati jika ada bercak pada media maka dengan. difusi akan terbentuk zona jernih yang disebut zona hambat Golongan senyawa yang mempunyai. aktivitas antibakteri terhadap S parathypi A dapat diketahui dari nilai Rf bioautografi dan KLT yang. 2 4 Analisis Data, Aktivitas antibakteri tertinggi dilihat berdasarkan besarnya diameter zona hambat pada. bakteri Salmonella parathypi A Ekstrak tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi dilihat. dari zona hambat yang paling besar Ekstrak tanaman tidak memiliki aktivitas antibakteri jika tidak. memiliki zona hambat di sekeliling disk Hasil uji aktivitas antibakteri baik menghasilkan zona. hambat atau tidak dilakukan replikasi 3x kemudian dihitung rata rata dan standar deviasi SD. Analisis kandungan senyawa ekstrak etanol yang terdapat dalam daun jambu biji daun mint. daun serai pelepah pisang ambon dan rimpang jahe menggunakan kromatografi lapis tipis KLT. Bercak elusi pada plat KLT diamati pada sinar tampak sinar UV 254 nm dan UV 366 nm Bercak. elusi dideteksi dengan pereaksi semprot yaitu sitroborat untuk mendeteksi senyawa flavonoid. Dragendorff mendeteksi alkaloid vanillin H2SO4 untuk mengidentifikasi senyawa golongan saponin. dan terpenoid dan FeCl3 untuk menentukan adanya senyawa tanin dan polifenol. Uji bioautografi akan menunjukkan golongan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri. dengan melihat zona hambat dan menghitung nilai Rf pada KLT Golongan senyawa yang memiliki. aktivitas antibakteri terhadap Salmonella parathypi A ditunjukan dengan nilai Rf bioautografi dan. KLT yang sama, 3 HASIL DAN PEMBAHASAN, 3 1 Ekstraksi.
Hasil rendemen ekstraksi lima tanaman bervariasi Tabel 1 Rendemen simplisia yang. tertinggi adalah daun jambu biji dengan nilai rendemen 6 95. SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI DAUN MINT DAUN SERAI PELEPAH PISANG AMBON DAN RIMPANG JAHE TERHADAP Salmonella paratyphi A PUBLIKASI ILMIAH oleh NISA FAUZIAH K 100 130 202 Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh Dosen Pembimbing Ratna Yuliani M Biotech St NIK 957 ii HALAMAN PENGESAHAN SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI

Related Books

PRINCIPLES AND METHODS OF VALIDATION OF DIAGNOSTIC ASSAYS

PRINCIPLES AND METHODS OF VALIDATION OF DIAGNOSTIC ASSAYS

VALIDATION OF DIAGNOSTIC ASSAYS FOR INFECTIOUS DISEASES INTRODUCTION1 Validation is a process that determines the fitness of an assay2 which has been properly developed optimised and standardised for an intended purpose All diagnostic assays laboratory and field assays should be validated for the species in which they will be used Validation includes estimates of the analytical and

Diagnosis and sampling procedures for FMD

Diagnosis and sampling procedures for FMD

Diagnostic windows FMD virus Laboratory diagnosis of FMD Confirms clinical diagnosis Supports but does not replace the need for accurate clinical diagnosis The quality of the laboratory diagnosis depends on the selection and quality of the samples submitted Requires full epidemiological information on samples submitted for rational interpretation Uninfected Live Virus by

WHO CDS CSR EDC 99 8 Laboratory Methods for the Diagnosis

WHO CDS CSR EDC 99 8 Laboratory Methods for the Diagnosis

laboratory methods used to identify them and to test their susceptibility to antimicrobial agents in the epidemic setting The laboratory techniques and study methodology described provide accurate and useful information for the control of epidemics using a minimum of resources The manual emphasizes

Diagnostic Error amp Laboratory Testing

Diagnostic Error amp Laboratory Testing

test needed STAT Too removed from the clinical situation PROVIDERS False assumptions that the test results would be back any minute Failure to follow up on the test or to discuss their needs with the lab Suboptimal trainee supervision Cognitive Errors System Errors

LABORATORY DIAGNOSTIC WEB SZU

LABORATORY DIAGNOSTIC WEB SZU

LABORATORY DIAGNOSTIC Subjects Immunology Study programme General Medicine RNDr Mira Horv thov PhD Department of Clinical Immunology and Allergology Faculty of Medicine SMU in Bratislava Academic year 2015 2016 Department of Immunolgy Laboratory of Cellular Immunology Flow Cytometry Laboratory Immunochemistry Laboratory Tissue Culture Laboratory Advances in diagnostic immunology are

Laboratory Diagnostic Testing Cosmos Biomedical

Laboratory Diagnostic Testing Cosmos Biomedical

Laboratory Diagnostic Testing Catalogue Cosmos Biomedical Ltd is a leading supplier of premium diagnostic products and training materials to health and research institutions in the UK and worldwide We stock products ranging from simple test reagents to laboratory analysers and provide a unique education series for CPD in all medical and pathology disciplines In this catalogue we have

Davis s Comprehensive Handbook of Laboratory

Davis s Comprehensive Handbook of Laboratory

academic and clinical settings Davis s Comprehensive Handbook of Laboratory and Diagnostic Procedures with Nursing Implicationsprovides the user with a comprehen sive reference that allows easy access to information about laboratory and diagnostic tests and procedures A general overview of how all the tests and procedures included in this book relate to body systems can be found in

L INDUSTRIE H TELI RE FRAN AISE EN 2018

L INDUSTRIE H TELI RE FRAN AISE EN 2018

Avant propos L quipe KPMG sp cialis e en Tourisme H tellerie Loisirs a le plaisir de vous pr senter la 41 me dition de son tude annuelle l Industrie H teli re Fran aise Depuis plus de quatre d cennies cette publication s illustre par Son envergure tant dans la dur e 41 me ann e de parution que dans l tendue du panel environ 3 000 participants

USALI standardizirani izvje taji za menad ere hotela

USALI standardizirani izvje taji za menad ere hotela

USALI OSTALI KONTROLABILNI TRO KOVI HOTELA naknada menad ment kompaniji najmovi osiguranje i oporezivanje imovine NETO REZULTAT HOTELA porez EBT Nekontrolabilni fikani tro kovi kamate otpisi i amortizacija EBITDA KONTROLABILNI FIKSNI TRO KOVI SEGMENTA ostali tro kovi rada administrativni tro kovi tro kovi odr avanja tro kovi energije

Data Reporting Guidelines STR Inc

Data Reporting Guidelines STR Inc

STR Data Reporting Guidelines 02 The STR data reporting guidelines were developed and evolved to align with the Uniform System of Accounts for the Lodging Industry USALI currently in its eleventh edition The guidelines conform to USALI where possible with the spirit and intent to uphold benchmarking best practices and performance data consistency In the current version STR has